Rabu, 19 Juni 2013

BBM, Miras, Kafe, Narkoba, Petasan, dan Balapan Liar di Bulukumba



Selain mengantisipasi berbagai kemungkinan dampak yang terjadi setelah harga BBM dinaikkan, Pemkab Bulukumba bersama unsur-unsur terkait, sudah membahas berbagai langkah antisipasi menghadapi bulan suci Ramadhan, terutama pengawasan terhadap peredaran miras, kafe, narkoba, petasan, serta balapan liar di Bulukumba. (Foto: Asnawin


==============
BBM, Miras, Kafe, Narkoba, Petasan, dan Balapan Liar di Bulukumba

Kabupaten Bulukumba, 5 Juni 2013.

Bahan bakar minyak (BBM) kini tengah ramai dibicarakan, karena pemerintah berencana menaikkan harganya. Tentu saja akan banyak dampak yang timbul, terutama aksi penolakan yang dipelopori mahasiswa dan naiknya harga-harga berbagai jenis barang.

Sehubungan dengan itu, pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan beberapa langkah antisipasi, termasuk mengantisipasi berbagai hal dalam memasuki hal-hal bulan suci Ramadhan Juli mendatang.

Pemerintah Kabupaten Bulukumba sudah memastikan mendukung langkah pemerintah pusat guna menaikkan harga BBM dan menyiapkan berbagai langkah antisipasi, terutama mengantisipasi gangguan keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat.

Persiapan untuk berbagai langkah antisipasi tersebut dibicarakan dalam pertemuan di Kantor Bupati Bulukumba, Selasa, 4 Juni 2013. Pertemuan dipimpin Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan, Kapolres Bulukumba AKBP Jafar So'diq, Ketua Pengadilan Negeri Bulukumba Lambertus Limbong SH, Kajari Bulukumba Chaerul Fauzi, serta Dandim 1411 Bulukumba Letkol Agung Senoaji.

Yang menarik, pertemuan itu juga membahas berbagai langkah antisipasi menghadapi bulan suci Ramadhan, terutama pengawasan terhadap peredaran miras, kafe, narkoba, petasan, serta balapan liar di Bulukumba.

Tentang langkah-langkah antisipasi dampak kenaikan harga BBM, Kabag Humas dan Protokol Pemkab Bulukumba Sukarman, mengatakan, selain koordinasi terpadu dengan aparat polisi (Polres) dan tentara (Kodim), Pemkab Bulukumba juga berencana menyalurkan bantuan langsung tunai (BLT) kepada masyarakat atau BLSM.

Pemkab Bulukumba juga akan menyiapkan program operasi pasar mengantisipasi kenaikan harga sembilan bahan pokok (Sembako) dan tarif angkutan.

"Harga sembako dan tarif angkutan biasanya akan ikut naik, sehingga perlu dilakukan operasi pasar," jelasnya. (asnawin/r)


READ MORE - BBM, Miras, Kafe, Narkoba, Petasan, dan Balapan Liar di Bulukumba

Jumat, 07 Juni 2013

SAJAK PEPERANGAN Abimanyu (Untuk puteraku, Isaias Sadewa)

SAJAK PEPERANGAN Abimanyu
(Untuk puteraku, Isaias Sadewa) 

Oleh:
WS Rendra

Ketika maut mencegatnya di delapan penjuru.
Sang ksatria berdiri dengan mata bercahaya.
Hatinya damai,
di dalam dadanya yang bedah dan berdarah,
karena ia telah lunas
menjalani kewjiban dan wajar.
Setelah ia wafat
apakah petani-petani akan tetap menderita,
dan para wanita desa
tetap membanjiri rumah pelacuran di kota?
Itulah pertanyaan untuk kita yang hidup.
Tapi bukan itu yang terlintas di kepalanya
saat ia tegak dengan tubuh yang penuh luka-luka.
Saat itu ia mendengar
nyanyian angin dan air yang turun dari gunung.
Perjuangan adalah pelaksanaan cita dan rasa.
Perjuangan adalah pelunasan kesimpulan penghayatan.
Di saat badan berlumur darah,
jiwa duduk di atas teratai.
Ketika ibu-ibu meratap
dan mengurap rambut mereka dengan debu,
roh ksatria bersetubuh dengan cakrawala
untuk menanam benih
agar nanti terlahir para pembela rakyat tertindas
- dari zaman ke zaman
                                                                            Jakarta, 2 Sptember 1977  


READ MORE - SAJAK PEPERANGAN Abimanyu (Untuk puteraku, Isaias Sadewa)

SAJAK ORANG KEPANASAN ( WS Rendra, Jumat, 15 Mei 1998 )

SAJAK ORANG KEPANASAN

Oleh:
WS Rendra

Karena kami makan akar
dan terigu menumpuk di gudangmu
Karena kami hidup berhimpitan
dan ruangmu berlebihan
maka kami bukan sekutu
Karena kami kucel
dan kamu gemerlapan
Karena kami sumpek
dan kamu mengunci pintu
maka kami mencurigaimu
Karena kami telantar dijalan
dan kamu memiliki semua keteduhan
Karena kami kebanjiran
dan kamu berpesta di kapal pesiar
maka kami tidak menyukaimu
Karena kami dibungkam
dan kamu nyerocos bicara
Karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan
maka kami bilang: TIDAK kepadamu
Karena kami tidak bisa memilih
dan kamu bebas berencana
Karena kami semua bersandal
dan kamu bebas memakai senapan
Karena kami harus sopan
dan kamu punya penjara
maka TIDAK dan TIDAK kepadamu
Karena kami arus kali
dan kamu batu tanpa hati
maka air akan mengikis batu
Suara Merdeka, 
                                                                     Jumat, 15 Mei 1998


READ MORE - SAJAK ORANG KEPANASAN ( WS Rendra, Jumat, 15 Mei 1998 )

SAJAK MATA-MATA ( WS Rendra, Hospital Rancabadak, Bandung, 28 Januari 1978 )

SAJAK MATA-MATA 

Oleh: 
WS Rendra

Ada suara bising di bawah tanah. 
Ada suara gaduh di atas tanah. 
Ada ucapan-ucapan kacau di antara rumah-rumah. 
Ada tangis tak menentu di tengah sawah. 
Dan, lho, ini di belakang saya 
ada tentara marah-marah.
Apaa saja yang terjadi? Aku tak tahu.
Aku melihat kilatan-kilatan api berkobar. 
Aku melihat sinyal-sinyal. 
Semua tidak jelas maknanya. 
Raut wajah yang sengsara, tak bisa bicara, 
menggangu pemandanganku.
Apa saja yang terjadi? Aku tak tahu.
Pendengaran dan penglihatan 
menyesakkan perasaan, 
membuat keresahan - 
Ini terjadi karena apa-apa yang terjadi 
terjadi tanpa kutahu telah terjadi. 
Aku tak tahu. Kamu tak tahu. 
Tak ada yang tahu.
Betapa kita akan tahu, 
kalau koran-koran ditekan sensor, 
dan mimbar-mimbar yang bebas telah dikontrol. 
Koran-koran adalah kelanjutan mata kita. 
Kini sudah diganti mata yang resmi. 
Kita tidak lagi melihat kenyataan yang beragam. 
Kita hanya diberi gambara model kondisi 
yang sudah dijahit oleh penjahit resmi.
Mata rakyat sudah dicabut. 
Rakyat meraba-raba di dalam kasak-kusuk. 
Mata pemerintah juga diancam bencana. 
Mata pemerintah memakai kacamata hitam. 
Terasing di belakang meja kekuasaan. 
Mata pemerintah yang sejati 
sudah diganti mata-mata.
Barisan mata-mata mahal biayanya. 
Banyak makannya. 
Sulit diaturnya. 
Sedangkan laporannya 
mirp pandangan mata kuda mobil 
yang dibatasi tudung mata.
Dalam pandangan yang kabur, 
semua orang marah-marah. 
Rakyat marah, pemerinta marah, 
semua marah lantara tidak punya mata. 
Semua mata sudah disabotir. 
Mata yangbebas beredar hanyalah mata-mata.

                                                        Hospital Rancabadak, Bandung, 28 Januari 1978  

READ MORE - SAJAK MATA-MATA ( WS Rendra, Hospital Rancabadak, Bandung, 28 Januari 1978 )

SAJAK MATAHARI ( Ws. Rendra, Yogya, 5 Maret 1976 )

SAJAK MATAHARI 

Oleh: 
WS Rendra

Matahari bangkit dari sanubariku. 
Menyentuh permukaan samodra raya. 
Matahari keluar dari mulutku, 
menjadi pelangi di cakrawala.
Wajahmu keluar dari jidatku, 
wahai kamu, wanita miskin! 
kakimu terbenam di dalam lumpur. 
Kamu harapkan beras seperempat gantang, 
dan di tengah sawah tuan tanah menanammu!
Satu juta pria gundul 
keluar dari hutan belantara, 
tubuh mereka terbalut lumpur 
dan kepala mereka berkilatan 
memantulkan cahaya matahari. 
Mata mereka menyala 
tubuh mereka menjadi bara 
dan mereka membakar dunia.
Matahri adalah cakra jingga 
yang dilepas tangan Sang Krishna. 
Ia menjadi rahmat dan kutukanmu, 
ya, umat manusia!

                                                                    Yogya, 5 Maret 1976  


READ MORE - SAJAK MATAHARI ( Ws. Rendra, Yogya, 5 Maret 1976 )

SAJAK KENALAN LAMAMU ( Ws. Rendra, Yogyakarta, 21 Juni 1977 )

SAJAK KENALAN LAMAMU
Oleh:   WS Rendra

Kini kita saling berpandangan saudara. 
Ragu-ragu apa pula, 
kita memang pernah bertemu. 
Sambil berdiri di ambang pintu kereta api, 
tergencet oleh penumpang berjubel, 
dari Yogya ke Jakarta, 
aku melihat kamu tidur di kolong bangku,
dengan alas kertas koran, 
sambil memeluk satu anakmu, 
sementara istrimu meneteki bayinya, 
terbaring di sebelahmu. 
Pernah pula kita satu truk, 
duduk di atas kobis-kobis berbau sampah, 
sambil meremasi tetek tengkulak sayur, 
dan lalu sama-sama kaget, 
ketika truk tiba -tiba terhenti 
kerna Distop oleh polisi, 
yang menarik pungutan tidak resmi. 
Ya, saudara, kita sudah sering bertemu, 
kerna sama-sama anak jalan raya. 
.................................
Hidup macam apa ini! 
Orang-orang dipindah kesana ke mari. 
Bukan dari tujuan ke tujuan. 
Tapi dari kondisi ke kondisi yang tanpa perubahan. 
.........................
Kini kita bersandingan, saudara. 
Kamu kenal bau bajuku. 
Jangan kamu ragu-ragu, 
kita memang pernah bertemu. 
Waktu itu hujan rinai. 
Aku menarik sehelai plastik dari tong sampah 
tepat pada waktu kamu juga menariknya. 
Kita saling berpandangan. 
Kamu menggendong anak kecil di punggungmu. 
Aku membuka mulut, 
hendak mengatakan sesuatu ...... 
Tak sempat! 
Lebih dulu tinjumu melayang ke daguku ..... 
Dalam pandangan mata berkunang-kunang, 
aku melihat kamu 
membawa helaian plastik itu 
ke satu gubuk karton. 
Kamu lapiskan ke atap gubugmu, 
dan lalu kamu masuk dengan anakmu ..... 
Sebungkus nasi yang dicuri, 
itulah santapan. 
Kolong kios buku di terminal 
itulah peraduan. 
Ya, saudara-saudara, kita sama-sama kenal ini, 
karena kita anak jadah bangsa yang mulia. 
.................. ....
Hidup macam apa hidup ini. 
Di taman yang gelap orang menjual badan, 
agar mulutnya tersumpal makan. 
Di hotel yang mewah istri guru menjual badan 
agar pantatnya diganjal sedan. 
................. 
Duabelas pasang payudara gemerlapan, 
bertatahkan intan permata di sekitar putingnya . 
Dan di bawah semuanya, 
celana dalam sutra warna kesumba. 
Ya, saudara, 
Kita sama-sama tertawa mengenang ini semua. 
Ragu-ragu apa pula 
kita memang pernah bertemu. 
Kita telah menyaksikan, 
betapa para pembesar 
menjilati selangkang wanita, 
sambil kepalanya diguyur anggur . 
Ya, kita sama-sama germo, 
yang menjahitkan jas di Singapura 
mencat rambut di pangkuan bintang film, 
main golf, main mahyong, 
dan makan kepiting saus tiram di restoran terhormat. 
........... 
Hidup dalam khayalan, 
hidup dalam kenyataan ...... 
tak ada bedanya. 
Kerna khayalan dinyatakan, 
dan kenyataan dikhayalkan, 
di dalam peradaban fatamorgana. 
..........
Ayo, jangan lagi sangsi, 
kamu kenal suara batukku. 
Kamu lihat lagi gayaku meludah di trotoar. 
Ya, memang aku. Temanmu dulu. 
Kita telah sama-sama mencuri mobil ayahmu 
bergiliran meniduri gula-gulanya, 
dan mengintip ibumu main serong 
dengan ajudan ayahmu. 
Kita telah sama-sama beli Morphin dari guru kita. 
Menenggak valium yang disediakan oleh dokter untuk ibumu, 
dan akhirnya menggeletak di emper tiko, 
di samping kere di Malioboro. 
Kita alami semua ini, 
kerna kita putra-putra dewa di dalam masyarakat kita. 
.....
Hidup melayang-layang. 
Selangit, 
melayang-layang. 
Kekuasaan mendukung kita serupa ganja ..... 
meninggi .... Ke awan ...... 
Peraturan dan hukuman, 
kitalah yang empunya. 
Kita tulis dengan keringat di ketiak, 
di atas sol sepatu kita. 
Kitalah gelandangan kaya, 
yang harus meyakinkan diri 
dengan pembunuhan. 
........... 
Saudara-saudara, kita sekarang berjabatan. 
Kini kita bertemu lagi. 
Ya, jangan kamu ragu-ragu, 
kita memang pernah bertemu. 
Bukankah tadi sudah kamu kenal 
betapa derap langkahku?
Kita dulu pernah menyetop lalu lintas, 
membakari mobil-mobil, 
melambaikan poster-poster, 
dan berderap maju, berdemonstrasi. 
Kita telah sama-sama merancang strategi 
di panti pijit dan restoran. 
Dengan arloji emas, 
secara teliti kita susun jadwal waktu. 
bergadang, berkonsultasi di larut kelam, 
sambil mendekap  hostess  di klub malam. 
Kerna begitulah gaya pemuda harapan bangsa.
Politik adalah cara merampok dunia. 
politk adalah cara menggulingkan kekuasaan, 
untuk menikmati giliran berkuasa. 
Politik adalah tangga naiknya tingkat kehidupan. 
dari becak ke taksi, dari taksi ke sedan pribadi 
lalu ke mobil sport, lalu: helikopter! 
Politik adalah festival dan pekan olah raga . 
Politik adalah wadah kegiatan kesenian. 
Dan bila ada orang banyak bacot, 
kita cap ia sok pahlawan. 
.............................
Dimanakah kunang-kunag di malam hari? 
Dimanakah trompah kayu di muka pintu? 
Di hari-hari yang berat, 
aku cari kacamataku, 
dan tidak ketemu. 
..................
Ya, inilah aku ini! 
Jangan lagi sangsi! 
Inilah bau ketiakku. 
Inilah suara batukku. 
Kamu telah menjamahku, 
jangan lagi kamu ragau.
Kita telah sama-sama berdiri di sini, 
melihat bianglala berubah menjadi lidah-lidah api, 
gunung yang kelabu membara, 
kapal terbang pribadi di antara mega-mega meneteskan air mani 
di putar  blue-film  di dalamnya. 
.....................
Kekayaan melimpah. 
Kemiskinan melimpah. 
Darah melimpah. 
Ludah menyembur dan melimpah. 
Waktu melanda dan melimpah. 
Lalu muncullah banjir suara. 
Suara-suara di kolong meja. 
Suara-suara di dalam Lacu. 
Suara-suara di dalam pici. 
Dan akhirnya 
dunia terbakar oleh tatawarna, 
Warna-warna nilon dan plastik. 
Warna-warna seribu warna. 
Tidak luntur semuanya. 
Ya, kita telah sama-sama menjadi saksi 
dari suatu kejadian, 
yang kita tidak tahu apa-apa, 
namun lahir dari perbuatan kita.

                                                                      Yogyakarta, 21 Juni 1977 



READ MORE - SAJAK KENALAN LAMAMU ( Ws. Rendra, Yogyakarta, 21 Juni 1977 )

KUPU-KUPU DI DALAM BUKU

KUPU-KUPU DI DALAM BUKU

Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api,
di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,
dan aku bertanya
di negeri mana gerangan aku sekarang,
Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,
di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku
dan cahaya lampunya terang benderang,
kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua
sibuk membaca dan menuliskan catatan,
dan aku bertanya
di perpustakaan negeri mana gerangan aku sekarang,
Ketika bertandang di sebuah toko,
warna-warni produk yang dipajang terbentang,
orang-orang memborong itu barang
dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,
dan aku bertanya
di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,
Ketika singgah di sebuah rumah,
kulihat ada anak kecil bertanya pada mamanya,
dan mamanya tak bisa menjawab keinginan-tahu puterinya,
kemudian katanya,
“tunggu, tunggu, mama buka ensiklopedia dulu,
yang tahu tentang kupu-kupu,”
dan aku bertanya
di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,
Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,
di setasiun bis dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,
di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca,
di tempat penjualan buku laris dibeli,
dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu
tidak berselimut debu
karena memang dibaca.
                                                                                                          Taufiq Ismail, 1996.


READ MORE - KUPU-KUPU DI DALAM BUKU